Menghadiri “Festival Pinawetengan 2010” (bagian 2 )
Oleh: Emile Mailangkay
(Ketua Umum ‘Kawanua USA’ )
Atas permintaan pembaca, pada edisi bulan lalu telah saya ceriterakan kunjungan saya ke desa Pinawetengan dan kecamatan Tompaso, Minahasa untuk menghadiri “Festival Pinawetengan 2010,” yang diadakan pada tanggal 7 dan 8 Juli 2010 di desa Pinawetengan dan di kecamatan Tompaso. Setelah upacara adat di Watu Pinawetengan yang telah berlangsung khidmat dan teratur, acara telah dilanjutkan dengan penanaman secara simbolis bibit-bibit pohon cempaka oleh Benny Mamoto dan istri, Benny Tengker, saya dan istri, serta wakil-wakil dari kawasan Soputan, kawasan Lengkoan, kawasan gunung Kawatak, kawasan Potolandot, kawasan Lolombulan, kawasan sungai Ranoyapo dan kawasan sungai Nimanga.
Menyusul penyerahan bibit pohon cempaka kepada sepasang pengantin baru. Dengan iringan tambur, kelompok kabasaran memikul masuk sebuah bangunan rumah kecil yang akan ditempati sepasang pengantin baru. Ketua Pakasa’an Tontemboan kemudia menyerahkan bibit pohon cempaka kepada pengantin baru ini untuk ditanam sebagai bahan baku untuk pembuatan rumahnya, sambil berkata: “Inilah bibit cempaka, tanamlah di kebunmu agar kamu mendapat kayu untuk membangun rumahmu.” Pengantin menjawab: “Makapulu sama,” yang berarti ‘Terima kasih’.
Kamus Tontemboan
Acara selanjutnya adalah peluncuran buku kamus Tontemboan yang diterbitkan oleh Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Tim pengumpul data tim penyusun kamus Tontemboan berbaris memasuki arena dihantar oleh kelompok Tambur. Tiba di arena, satu eksemplar buku langsung diserahkan kepada wakil dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang hadir. Sesudah itu Benny Mamoto dan ibu Iyarita menyerahkan satu eksemplar buku kamus kepada seorang anak dengan pesan supaya dilestarikan dan dikembangkan.
Kamus Tontemboan - Indonesia yang berkulit keras (hardcover) dan terdiri dari 304 halaman ini adalah prakarsa Institut setelah melihat kenyataan bahwa bahasa-bahasa daerah Minahasa secara perlahan mulai punah. Bahasa daerah Tonsea, Tolour, Tombulu, Tontemboan, Tonsawang, Bantik, Pasan Ponosakan belum mempunyai kamus yang dapat menunjang pemakaian bahasa daerah masing-masing, dan generasi muda sudah tidak peduli akan bahasa daerahnya. Karenanya Institut Seni Budaya Sulawesi Utara merasa terpanggil untuk memfasilitasi penyusunan kamus Tontemboan melalui Forum Adat Tontemboan. Penyusunan dan penerbitan kamus ini selesai hanya dalam waktu enam bulan, oleh karena itu segera akan disusun edisi revisi untuk menyempurnakannya.
Musik bia
Acara berikut adalah pencatatan Guinness World Records untuk musik bia. Sebanyak 339 peniup alat musik bia yang terdiri dari pemain dewasa dan anak-anak memasuki arena. Mereka berdiri berjejer untuk dihitung jumlahnya. Dengan mulus mereka memainkan beberapa buah lagu daerah dan lagu rakyat Minahasa antara lain lagu waltz populer Luri Wi Sako di hadapan Ketua Umum Institut Seni Budaya Sulawesi Utara Dr. Benny J. Mamoto, yang adalah juga ketua Panitia Festival Pinawtengan, disaksikan oleh Records Manager dari Guinness World Records Mr. Aleksandr Vypirailenko dari London, dan seorang pengamat dari Museum Rekor Indonesia (MURI), sejumlah pejabat pemerintah, undangan dan masyarakat setempat.
Orkes musik bia ini merupakan kelompok pemusik bia terbesar di dunia dan layak dicatat dalam buku Guinness World Records maupun rekor MURI. Biasanya orkes musik bia hanya terdiri dari sekitar 20 sampai 30 pemain. Dengan prakarsa Benny Mamoto yang sebelumnya telah menciptakan sejumlah rekor dunia GWR di bidang seni budaya Sulawesi Utara, orkes musik bia terbesar di dunia ini pada 7 Juli 2010 tersebut telah tercatat sebagai salah satu rekor GWR lainnya di bidang seni budaya Sulawesi Utara.
Musik bia merupakan salah-satu musik tradisional masyarakat Sulawesi Utara yang saat ini sudah mulai terlupakan. Para pemain kelompok GWR ini umumnya berasal dari desa Batu Kecamatan Likupang Selatan Kabupaten Minahasa Utara dan terdiri dari peniup remaja dan dewasa. Pemain termuda berussia 6 tahun dan pemain tertua berusia 80 tahun.
Kegiatan di Tompaso
Penampilan orkes musik bia di hadapan petugas Guinness World Records merupakan acara terakhir di Watu Pinawetengan. Saya dan istri bersama para tamu lainnya kembali naik bus yang sudah disediakan untuk menuju ke kampus Institut Seni Budaya Sulawesi Utara di kecamatan Tompaso. Demikin juga masyarakat yang hadir berbondong-bondong meninggalkan Watu Pinawetengan menuju Tompaso yang tidak jauh letaknya untuk menyaksikan kegiatan-kegiatan festival lainnya.
Nasi Jaha
Setiba di Tompaso, kami dibawa melewati stand stand kuliner khas Minahasa dan orkes bambu menuju ke ruang makan untuk makan siang.
Ditepi jalan sekitar institut terbentang deretan nasi jaha yaitu kuliner khas Minahasa ( semacam ‘lemang’ kalau di daerah Padang), yang panjang total menurut panitia mencapai 8 kilometer, yang terpanjang di Indonesia saat ini. Deretan nasi jaha ini mengelilingi stadion pacuan kuda Tompaso yang terletak bersebelahan dengan institut. Sayang sekali saya tidak sempat mencicipi nasi jaha ini yang diberikan secara gratis kepada pengunjung.
Para petugas dari MURI dan juga dari Guinness World Records terlihat sibuk memeriksa deretan nasi jaha ini dan mencicipinya untuk yakin bahwa nasi jaha benar kuliner yang dapat dikonsumsi, kemudian, baik petugas MURI maupun GWR di lapangan tengah institut menyerahkan sertifikat MURI dan sertifikat GWR kepada panitia.
Di lapangan Tompaso ini saya bertemu dengan beberapa pakar budaya Minahasa antara lain Jessy Wenas, Jerry Logahang, Prof, Dr. Welly Ruru, Prof. Rattu. Saya juga bertemu dan berbincang-bincang dengan Panglima Brigade Manguni Farry Alan Malonda dan stafnya. Saya juga sempat bertemu dengan rombongan kawanua dari Malang pimpinan Egnie Sugiyono Rumambi yang akan menyelenggarakan pertemuan kawanua sedunia di Malang tahun depan.
Upacara di Watu Tumotowa
Selesai makan siang ketua panitia Benny Mamoto disertai Farry Alan Malonda, tonaas wangko serta pasukannya dan para tonaas berkuda menuju Watu Tumotowa yang terletak di tengah arena pacuan kuda Tompaso untuk melangsungkan upacara adat syukuran. Saya sendiri tidak sempat turut serta ke Watu Tumotowa karena asyik menyaksikan acara-acara tarian maengket dan musik kolintang di teras pertunjukan dan di atas panggung.
Pengertian Watu Tumotowa
Mnurut catatan sejarah, sebenarnya yang disebut “Watu Tumotowa” adalah batu yang didirikan atau ditanam oleh setiap komunitas Minahasa dimanapun mereka mulai membuka pemukiman. Batu itu menjadi mezbah untuk mereka mohon restu bermukim agar tanah dan air memberi berlimpah sumber kehidupan bagi masyarakatnya. Watu Tumotowa selanjutnya berfungsi sebagai media untuk berkomunikasi dengan Empung Walian Wangko. “Towa” dalam bahasa Tontemboan berarti ‘memanggil, memohon kehadiran Tuhan’. Di daerah Tonsea batu ini disebut Watu Tumou, di Tondano disebut: Panimbe, dan orang Tombulu menyebutnya Watu Pahlalesa.
Masyarakat leluhur Minahasa bila hendak membuka tempat pemukiman baru, melepaskan seekor ayam jantan di tempat yang sudah dipilih. Di mana ayam itu pertama mengais, mencakar tanah, disitulah batu altar didirikan. Rumah-rumah penduduk pun mulai didirikan di sekitar area yang menjadi tempat suci tersebut. Di Kakas, di permukaan batu yang merupakan titik awal pembangunan pemukiman, tergurat bekas cakar ayam (kina’kas ni ko’ko’- dan menjadi asal mula nama megeri itu : Ka’kas). Di Tompaso Baru, sebuah batu tumotowa terpahat di tebing batu, dan ini dipercaya oleh kalangan tertentu sebagai pemukiman mula-mula dari keturunan Toar Lumimuut sebelum mereka pindah ke kawasan Tonderukan dan sekitarnya,
Watu Tumotowa di Tompaso
Watu Tumotowa di Tompaso yang terletak di tengah-tengah lapangan pacuan kuda mempunyai keistimewaan tersendiri karena mezbah ini merupakan mezbah yang paling awal didirikan orang Minahasa sebelum mereka menyebar ke seluruh penjuru Minahasa dan mendirikan Watu Tumotowa-Watu Tumotowa di tempat pemukiman mereka masing-masing.
Juga Watu Tumotowa di Tompaso dipercaya sebagai tempat upacara yang serangkai dengan upacara besar di Watu Pinawetengan. Upacara di kedua tempat suci ini selalu dirangkaikan dan dikaitkan dengan permohonan untuk kesuburan dan keberhasilan panen.
Karena itu pula maka pada Festival Pinawetengan 2010 ini upacara adat di Watu Pinawerengan telah diikuti dengan upacara adat di Watu Tumotowa Tompaso.
Rekor MURI kain tenun motif Pinawetengan 100 meter
Pertunjukan tarian-tarian maengket oleh beberapa kelompok, dan peragaan busana dari kain tenun Pinawetengan oleh beberapa peragawati dan peragawan yang digelar di tengah lapangan kampus Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) diselingi dengan peragaan kain tenun motif Pinawetengan sepanjang 110 meter yang merupkakan kain tenun yang terpanjang di Indonesia saat ini dan mendapat sertifikat dari MURI. Dari rumah tenun yang terletak di kawasan institut, Benny Mamoto dan istri Iyarita berjalan keluar memimpin iring-iringan yang memperagakaan kain tenun motif Pinawetengan sepanjang 110 meter tanpa disambung mengelilingi lapangan, disaksikan oleh masyarakat setempat dan oleh petugas rekor MURI.
Kain motif Pinawetengan adalah salah satu jenis kain khas daerah Minahasa yang ide pembuatannya diilhami oleh gambar guratan simbol-simbol yang ada di Situs Watu Pinawetengan yang dibuat oleh leluhur orang Minahasa sekitar 3000 tahun yang lalu.
Kain motif Pinawetengan terdiri dari berbagai corak dan jenis, salah satunya adalah kain tenun Pinawetengan yang indah seperti yang telah diperagakan sore hari itu. Kain motif Pinawetengan khusus dikembangkan oleh Ibu Iyarita Mamoto dan telah diperagakan di manca negara sebagai “Lost Treasure of Minahasa.”
Songara kacang
Salah satu kegiatan di kampus institut selain peragaan busana, pertunjukan tari-tarian dan musik kolintang adalah demo pembuatan kuliner Minahasa seperti biapong, sup bruineboon, milu bakar dan rebus, saguer, juga cara memasak/songara kacang tanah dalam wajan-wajan ukuran raksasa dengan memakai pasir, satu hal yang mungkin hanya dilakukan di Minahasa. (bersambung)
(Dalam tulisan berikut: Peresmian Museum Seni pertama di Sulut, pemecahan rekor MURI musik bia di desa Batu, Likupang, musik jinjit Tomohon.)
Bookmark
Email this
Hits: 957
Comments (0)
Subscribe to this comment's feedShow/hide comments
Write comment
