Menghadiri “Festival Pinawetengan 2010” (bagian 1 )

Menghadiri “Festival Pinawetengan 2010” (bagian 1 )
Oleh: Emile Mailangkay
(Ketua Umum ‘Kawanua USA’ )
Pendahuluan.
Atas permintaan beberapa teman untuk saya ceriterakan pengalaman saya setelah menghadiri ‘Festival Pinawetengan‘ tahun ini di Minahasa, berikut akan saya usahakan secara bertahap melukiskan acara serta upacara yang berlangsung di Kecamatan Tompaso dan di Desa Pinabetengan, Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara tersebut yang diselenggarakan pada tanggal 7 Juli 2010.
Tidak terkilas sedikitpun dalam benak saya bahwa saya yang sudah bermukim lebih 32 tahun di Amerika Serikat suatu waktu akan dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri Upacara Adat di Watu Pinawetengan sebagai salah satu rangkaian acara pada ‘Festival Pinawetengan 2010’.
Bermula dari undangan Ibu Iyarita Mamoto-Mawardi ketika ia menghadiri acara Kunci Tahun Baru 2010 Kawanua USA di Loma Linda awal tahun ini, bersama Dr. Benny J.Mamoto SH. MSi, Ketua Umum Institut Seni Budaya Sulawesi Utara kepada saya dan istri untuk datang menyaksikan festival dan upacara adat tahun ini yang diselenggarakan pada tanggal 7 Juli 2010.
Undangan kedua pecinta seni budaya Sulawesi Utara ini yang saya anggap sebagai penghargaan bukan saja kepada saya tetapi kepada seluruh warga Kawanua USA di Amerika Serikat saya terima dengan sukacita dan dengan rendah hati.
Perjalanan ke Tompaso dan Pinabetengan
Maka berangkatlah kami berdua pada tanggal 25 Juni 2010 dengan EVA Air ke Jakarta melalui Taipei. Setelah berada di Jakarta seminggu lamanya, pada tanggal 3 Juli kami meneruskan perjalanan ke Manado dengan penerbangan Lion Air yang memakan waktu kurang lebih 3 jam. Dalam perjalanan ini kami ditemani oleh seorang kerabat Ibu Rita (demikian kami sapa Ibu Iyarita), dan setibanya di Manado kami dijemput oleh seorang petugas dari Institut.
Dua hari sebelum acara ‘Festival Pinawetengan‘ dimulai kami dibawa ke kompleks institut di kecamatan Tompaso dimana festival akan diadakan. Perjalanan darat memakan waktu k.l. 2 jam ke arah Selatan kota Manado, melewati kota Tomohon, Sonder dan Kawangkoan. Di Kawangkoan kami berhenti sebentar di salah satu warung kopi yang terletak di tepi jalan raya Kawangkoan untuk mencicipi bapao (biapong) Kawangkoan yang terkenal itu.
Setibanya di Tompaso, di kampus Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, kami menyaksikan betapa sibuk para petugas dan pekerja mempersiapkan tempat acara, mempersiapkan panggung dan gedung museum seni budaya yang baru. Dari situ kami dibawa ke desa Pinabetengan yang terletak hanya k.l. 15 menit pejalanan mobil dari Tompaso. Kami tiba agak malam tetapi kami masih sempat menyaksikan latihan musik kolintang dan persiapan upacara adat yang akan diadakan pada tanggal 7 Juli nanti. Kami melihat sebuah batu besar yang disebut Watu Pinawetengan yang telah dipugar dan terawat baik.
Di tempat inilah menurut catatan sejarah, sejak awal abad ke-19 para Tonaas dan Walian dari seluruh Minahasa datang melakukan upacara adat secara berkelompok. Para tua-tua ini juga berkumpul dan berunding serta meminta kekuatan sebelum memulai suatu perbuatan yang besar. Di Watu Pinawetengan ini juga menurut catatan Minahasa dibagi dalam 9 wilayah sub-etnis dan bahasa yang berbeda-beda, Tombulu, Tonsea, Tondano, Tontemboan dan sebagainya.
Dari Watu Pinawetengan kami pulang kembali ke Manado.
Pada hari yang sudah dinanti-nantikan yaitu hari Rabu tanggal 7 Juli 2010 pagi-pagi sekali kami meninggalkan Swiss-Bell Hotel di Manado dimana kami tinggal, menuju Tompaso.
Di kompleks institut Tompaso inilah untuk pertama kali kami bertemu muka dengan Dr. Benny Mamoto. Pertemuan tidak terasa canggung karena sebelumnya saya sudah beberapa kali berkomunikasi melalui e-mail dan telpon.
Dari perjumpaan dan percakapan pertama saya peroleh kesan bahwa Ketua Institut Seni Budaya Sulawesi Utara ini yang juga seorang Brigjen Polisi aktif adalah seorang pecinta seni budaya Sulut sejati dan bertekad melaksanakan pelestarian seni budaya Sulawesi Utara sambil meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil.
Di institut ini kami bertemu dengan Ketua Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) Jakarta Benny Tengker yang datang dari Jakarta untuk menghadiri festival. Benny Tengker dan saya diberikan baju adat untuk kami pakai yang terbuat dari kain tenun Pinawetengan, yang model dan coraknya sama dengan baju adat yang dipakai oleh Benny Mamoto sendiri, hanya berbeda warna. Demikian juga istri saya diberi kain kebaya tenun Pinawatengan yang bercorak sama dan serupa dengan kain kebaya yang dipakai ibu Iyarita Mamoto-Mawardi.
Setelah makan pagi kamipun bersama para undangan lainnya, antara lain para pencatat rekor dari Guiness World Records Aleksandr Vypirailenko, seoarang warga negara Inggris keturunan Rusia yang baru saja tiba dari London, Juga hadir seorang pencatat rekor dari MURI (Museum Rekor Indonesia), Wakil Walikota Tomohon Sjeni Watulangkow, beberapa tokoh Minahasa, dan beberapa pejabat pemerintah provinsi dan lokal menaiki bus untuk menuju Watu Pinawetengan.
Pencatat rekor dunia turut ke Desa Pinabetengan guna mencatat rekor dunia Guinness untuk kelompok pemain musik bia terbanyak di dunia yang akan digelar di Watu Pinawetengan sesudah upacara adat.
Upacara Adat
Setibanya di lokasi Watu Pinawetengan kami disambut oleh para penari Kabasaran yang sambil menari-nari dengan pedang terhunus mengantar kami ke panggung observasi yang sudah disediakan untuk kami dan para tamu lainnya.
Untuk beberapa saat, saya yang di Los Angeles mengorganisir kelompok tari Kabasaran serupa yang menggunakan pedang-pedang dari kayu, merasa takut melihat wajah para penari yang cukup seram dan ngeri tersambar pedang-pedang logam tajam yang diayun-ayunkan penari dekat kami.
Pagelaran Upacara untuk tahun 2010 ini disebut Pagelaran Upacara Adat Tontemboan (Eluren Eng Kayoba’an).
Pagelaran dimulai dengan prosesi Kabasaran Berkuda. Pemimpin kelompok kabasaran berkuda memasuki arena, menaburkan dupa pada enam perapian yang mengitari arena, kemudian kembali menjemput pasukan kabasaran berkuda yang membawa masuk bendera merah putih dan 9 bendera kelompok etnis Minahasa. Pasukan berkuda berdiri berjajar di depan arena, memberi hormat dan menancapkan 9 bendera kelompok etnis di pinggir panggung sebelum meninggalkan arena upacara.
Kemudian puluhan penari maengket pria wanita murid-murid SMP dan SMA Tompaso sambil menyanyi lagu Ampuruk menari luwes memasuki arena mengikuti irama musik kolintang. Saat-saat ini bagi saya dan istri merupakan saat yang sangat indah berkesan. “Bagus sekali,” bisik saya kepada Pak Benny yang duduk di kursi sebelah saya.
Setelah kami menyaksikan tari-tarian Maengket yang begitu menarik, nampak kelompok Kabasaran diiringi tambur kembali memasuki arena dan berpencar ke segala penjuru arena. “Mereka membersihkan tempat,” jelas Pak Benny kepada saya. Artinya membersihkan tempat dari segala pengaruh yang jelek.
Seorang pendeta senior kemudian berdoa dalam bahasa Tontemboan yang berisi permintaan untuk membersihkan arena dan sekaligus juga permintaan untuk diberikan kesenangan dan kesukaan dalam hidup, dan umur panjang.
Setelah doa, para penari kabasaran kembali menari-nari memasuki arena menandakan kegembiraan mereka dan kemudian mengambil tempat di pinggiran arena untuk mengawal seluruh pagelaran upacara adat.
Setelah itu saya dan istri, dan Benny Tengker didahului oleh Benny Mamoto dan ibu Rita dengan dihantar pemain tambur turun dari panggung menuju pusat tempat upacara yang digelar karpet merah dan bersama beberapa tonaas dan peserta lainnya duduk di atas batang kelapa yang tertancap ditanah yang menjadi tempat duduk.
Dr. Benny Mamoto selaku ketua Institut Seni Budaya Sulawesi Utara dan selaku tuan rumah penyelenggara pagelaran upacara adat ini secara resmi membuka upacara adat dengan ucapan selamat datang kepada hadirin dan sekaligus ia menjelaskan maksud perhelatan tahun ini.
Menurutnya kawasan hutan di Minahasa dan di Sulawesi Utara saat ini hanya tinggal 10% dari yang semestinya. Hutan sudah gundul dan banyak areal lahan pertanian sudak sangat memprihatinkan.
Oleh karena itu ia mengajak seluruh warga untuk menghidupkan dan mengtransformasikan budaya. Tahun 2007 pagelaran budaya diberi tema Matuari Maesaan yang mengimbau persatuan dan kesatuan bagi seluruh warga Toar Lumimuut. Tahun 2008 tema upacara adat adalah Maesaan untuk persatuan seluruh warga Sulawesi Utara penghuni bumi Nyiur Melambai.
Mulai tahun ini menurut Benny, Institut Seni Budaya Sulawesi Utara akan memperhatikan kehidupan masing-masing kelompok etnis yang ada dan dimulai dengan kelompok etnis Tontemboan. Hal ini tercermin pada tema upacara tahun ini ‘Eluren Eng Kayoba’an atau Upacara adat Tontemboan.
“Melengkapi canangan program penanaman sejuta pohon di seluruh Nusantara yang diprakarsai oleh Presiden RI, maka institut berinisiatif menyediakan dan membagi-bagi bibit pohon cempaka kepada tiap rumah tangga baru dari pakasa’an Tontemboan untuk ditanam di halaman rumah masing-masing, “ lanjutnya.
“Mari kita tanam pohon di gunung Soputan, Lolombulan, Sinonsayang, Lengkoan dan Kawatak, dan bersama-sama merawat dan memelihara sungai Ranoyapo, Nimanga, Ritey, dan Rurumea, dan lakukan tekad kita Elur-eluren eng kayobaan ‘ta,” ajak Pak Benny kepada seluruh warga Tontemboan.
Selesai sambutan Pak Benny, digelar upacara doa Tontemboan atau Ritual Mamewas yang biasanya dilakukan pada saat orang memulai suatu pekerjaan atau hajatan yang besar. Upacara dipimpin oleh empat orang tetua yang mendoakan pelestarian hutan. Doa ini disusul dengan pernyataan tekad untuk pelestarian hutan. Sambil kelompok musik bambu dari Desa Pinapalangkow memainkan lagu-lagu, Pak Benny dan Ibu Rita secara simbolis meletakkan bibit pohon cempaka pada kotak yang sudah disediakan di tengah tempat upacara. “ Inilah bibit cempaka pertama, simbol pemberian Institut Seni Budaya Sulut, untuk pelestarian hutan,” katanya.
Menyusul Ketua K3 Jakarta Benny Tengker yang mewakili kawanua dari luar Minahasa membaca dari buku acara panduan :”Bibit cempaka ini menandakan dukungan kami untuk usaha eluren eng kayobaan ‘ta.”, kemudian ia meletakkan bibit pohon cempaka.
Saya, satu-satunya kawanua yang berasal dari luar negeri yang hadir pada upacara adat ini tidak ketinggalan ambil bagian dalam upacara ini. Saya diminta membaca ucapan dalam bahasa Inggris :”We challence you, tou Tontemboan, with this sign, and we support your will.” Kemudian saya dan istri maju ke depan dan meletakkan bibit pohon cempaka di tempatnya.
Bagi saya, turut ambil bagian secara aktif pada upacara adat ini walau sedikitpun, terasakan sebagai suatu kehormatan besar. Sekembalinya di tempat duduk saya merenungkan makna kata-kata yang sudah saya ucapkan, dan terharu akan usaha yang mulia dari Institut bagi rakyat Tontemboan.
Sebelumnya di Tompaso ketika saya berbincang-bincang dengan Pak Benny ia sempat menjelaskan bahwa pohon cempaka bisa memberikan hasil kayu dalam waktu yang jauh lebih singkat ketimbang pohon jati sehingga manfaat secara materi bagi penduduk yang menanam pohon cempaka dapat diperoleh dalam waktu yang lebih singkat.
Dan bila program penanaman pohon cempaka di daerah Tontemboan berhasil maksimal, saya pun bisa berbangga dan bersyukur mempunyai bagian kecil di dalamnya.
Lebih dari itu sayapun terpikir bila memungkinkan untuk menghimbau warga kawanua di Amerika Serikat agar turut berpartisipasi dalam program penanaman pohon cempaka di daerah Tontemboan ini dengan cara membeli bibit pohon cempaka dan menyalurkannya kepada rumah tangga di Tontemboan melalui Institut.
Setelah kami meletakkan bibit pohon tersebut, menyusul wakil-wakil dari kawasan Soputan, kawasan Lengkoan, kawasan gunung Kawatak, kawasan Potolandot, kawasan Lolombulan, kawasan sungai Ranoyapo dan kawasan sungai Nimanga. (bersambung)
( Dalam tulisan berikut: Penyerahan bibit cempaka kepada pengantin baru, Peluncuran buku Kamus Tontemboan dan pagelaran musik bia untuk Guinness World Records.)
Comments (0)
Subscribe to this comment's feedShow/hide comments
Write comment
