Malam Kawanua USA 2000 HUT ke 1 di New York meriah
Awal acara berupa penjemputan para tamu dan undangan dari ruang tunggu secara tradisional oleh kelompok penari Kabasaran-Cakalele “Esatoroan” dan dibawa ke tempat duduk masing-masing. Disusul dengan “Tetengkoran” yaitu pengumuman secara tradisional oleh Sero Rarung yang berpakaian adat Minahasa, disampaikan dalam bahasa Tombulu.
Kemudian sambil berdiri, hadirin dengan penuh khidmat menyanyikan lagu doa “Opo Wananatas” diiringi musik kolintang “Esagenang” pimpinan Donny Tuju, disusul dengan doa pembukaan oleh Pdt. Bubby Ticoalu.
Ketua panitia Bernhard Lapian kemudian membuka acara dan menyampaikan selamat datang kepada para undangan dan hadirin. Ia juga menjelaskan bahwa pertemuan seperti malam ini sangat penting untuk menjalin persatuan antara masyarakat kawanua di AS dan juga untuk melestarikan kebudayaan dan kesenian Minahasa di Amerika Serikat.
Ketua Umum “Kawanua USA” Emile Mailangkay dalam sambutannya mengingatkan bahwa budaya ‘mapalus’ tidak hanya berlaku di Minahasa tetapi hendaknya diterapkan juga di AS. Ia menghimbau masyarakat kawanua di AS untuk “baku sayang” sesuai dengan tema perayaan malam itu, lebih dari itu ia mengharapkan masyarakat kawanua dapat mengangkat kembali citra Minahasa di tengah-tengah masyarakat di AS maupun di Indonesia.
Selain Dubes Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, turut hadir pada perayaan “Malam Kawanua USA 2000” ini, Bupati Minahasa Dolfie Tanor yang mewakili gubernur Sulut, staf ahli Bupati Dr.D.A.Supit, Wakil Tetap RI di PBB Dubes Makarim Wibisono, Deputi Watapri Dubes Makmur Widodo, Konjen RI New York Dubes I Gusti Ngurah Swetja, tokoh masyarakat Indonesia di New York Achmad Padang, Kabid Penerangan KBRI Mahendra Siregar, dan beberapa staf KBRI Washington DC, PTRI dan KJRI New York lainnya.
Bupati Tanor dalam sambutannya mengatakan tema perayaan “Mari Torang Baku Sayang” kelihatan sangat sederhana tetapi sebenarnya adalah inti dan hakekat dari hidup kita di tengah-tengah dunia ini. Kalau kita mau menyimak lebih dalam lagi ‘saling baku sayang’ penting sekali karena kita hidup di dunia tidak lama.
“Sebab itu paitua dengan maitua brenti jo tu baku-baku marah karena itu hidup pendek sekali..” Kalau saling baku sayang hidup itu indah sekali “dapa rasa mo hidup 1000 tahun lagi.”
Bupati juga mengingatkan kalau ada saudara kita yang hidup lebih baik (tabae) bersyukurlah dan jangan iri hati. Ia memberikan contoh kisah Kain dan Habel dari Alkitab. “Tetapi di antara kawanua di Amerika kan tidak ada Kain,” lanjutnya, “kalau kain so tua jadi ‘tarapu’, brenti jo hidup kalu cuma jadi tarapu, jangan karena tidak duduk di pengurus “Kawanua USA” kong mo maraju, brenti tu kalakuang bagitu.”
Pada akhir sambutannya yang penuh humor itu ia juga menghimbau warga kawanua di AS untuk saling “baku sayang” karena hidup “baku sayang” akan diberkati Tuhan.
Dubes Dorodjatun Kuntjoro-Jakti yang dalam sambutannya menyapa hadirin dengan Oom-Oom, Tante-tante, Broer dan Zus mengatakan ketika ia disambut dengan tarian Kabasaran-Cakalele ia teringat ketika masih menjadi murid di sekolah KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) di Asam Baru Jakarta mulai dari SD kelas 6 hingga tamat SMP. Dubes mengatakan bahwa tidak mungkin ia menjadi Dubes kalau tidak melalui sekolah tersebut. Dubes dengan jelas menyebut beberapa nama gurunya di sekolah tersebut seperti Alex Tendean, Jopie Tendean, Kawaas, Kaloke, Sorong, dan lain-lain. “Tahukah Saudara bahwa yang pernah menjadi murid di SD KRIS adalah Presiden Abdul Rachman Wahid.”
Dubes mengatakan bahwa walaupun sebenarnya ia harus menghadiri suatu acara lain di California malam itu, ia telah membatalkannya karena ingin menghadiri malam kawanua ini. “ Saya hadir di sini karena harus menyampaikan maaf ketika diundang di Los Angeles tahun lalu tidak sempat hadir, padahal itu merupakan saat yang penting sekali karena merupakan langkah yang pertama. Jadi kalau sudah dekat ini dari Washington tidak datang ke sini, dan mengenang riwayat hidup tadi, saya kira betul-betul tidak layak,” kata Dubes.
“Coba tanyakan kepada Pak Makarim (Dubes RI di PBB-red), siapa yang membuka pintu gerbang kita di PBB kalau bukan tokoh Minahasa Lambertus Palar. Bahkan kalau mau lebih lanjut lagi siapa yang merumuskan UUD 1945 sampai kita mempunyai Republik ini. Salah satu anggota dari Panitia 9 adalah Mr.A.A.Maramis. Jadi bagi kita, dalam perjuangan RI, Minahasa tidak bisa dipisahkan dari Indonesia karena sumbangannya besar sekali.”
Dubes mengaku mempunyai banyak teman dari Minahasa yang berjuang bersama dia membangun Indonesia.
Kepada gubernur Sulut, melalui Bupati Tanor, Dubes mengatakan bahwa Minahasa suatu daerah yang sungguh berpotensi. “Yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya Sumber Daya Manusia yang terkenal dari Minahasa itu yang telah menjadikan saya antara lain berdiri di depan Saudara-Saudara sekalian pada acara yang hebat ini, itu tetap melakukan tugas tersebut di Minahasa. Sebab kalau bukan Oom-Oom, Tante-Tante, Broer dan Zus yang turun tangan, bagaimana daerah itu bisa membangun. Saya yakin Konjen di Los Angeles akan membantu Anda, semua Konsul Jenderal di AS tahu tentang hari ini, tahun kedua dari Kawanua USA dan mereka akan membantu.”
Pada akhir sambutannya Dubes menekankan agar masyarakat Kawanua di AS benar-benar berpegang pada tema malam itu “Mari Torang Baku Sayang”.
Sebelum acara makan malam dan hiburan dimulai, Pdt. Hengky Hermanus telah menaikkan doa syafaat sekaligus doa untuk pengurus “Kawanua USA” periode 2000-2004.
Doa penutup acara dan doa makan telah dibawakan oleh Pastor Joseph Gerungan. Makanan yang dihidangkan berupa makanan khas Minahasa yang disumbangkan oleh masyarakat kawanua setempat dan telah dikoordinir dengan baik oleh tante Aaltje Lalamentik.
Acara-acara hiburan telah diisi dengan beberapa tarian Minahasa, tari Potong Padi oleh anak-anak remaja New York di bawah koordinasi Beatrice (Nona) Kairupan. Tari Maengket dan Tari Lenso oleh “Saruntawaya” dari New Jersey dikoordinir oleh Denny Sanger menampilkan Meity Peleh sebagai ‘kapel’ yang dengan lincah dan memukau memimpin tigapuluhan penari, mengingatkan hadirin kembali ke tanah leluhur Minahasa, sampai ada yang menitikkan air mata.
Acara lain diisi oleh paduan suara dari Los Angeles yang terdiri dari kurang lebih limapuluh peserta dipimpin oleh Carla Taroreh dan Jeanne Oroh membawakan lagu Sapa Suru Satang USA dan Minahasa Tanah Airku. Duet Ricky Mamesah dan Benny Lumowah iringan orgen pemimpin band “Exodus” dari Los Angeles, Rudy Oroh, menambah meriah suasana.
Penyanyi-penyanyi setempat lainnya seperti Paula Kalangie mempesona penonton dengan lagu ‘tempo doeloe’ Selendang Sutra, nyanyjian solo Harold Tombeng dari New York, Errol Tandayu dari Washington DC dan penyanyi terkenal dari Jakarta Nancy Sanger, serta penyanyi Manado Linda Lapian yang tidak asing lagi bagi masyarakat di Minahasa, juga sempat melantunkan beberapa buah lagu daerah Minahasa.
Berhubung waktu sudah tidak mengizinkan lagi, beberapa rombongan yang datang dari luar kota New York terpaksa tidak sempat mengambil bagian dalam acara yang padat tetapi menarik itu.
Panggung acara yang didesain oleh Wim Rumambi, Carry Rombot dan lain-lain menyerupai rumah panggung di Minahasa merupakan sesuatu yang baru dan menarik perhatian hadirin.
Keseluruhan acara hiburan yang dipantau dengan baik sekali oleh pembawa acara Debbie Maringka Wantah, Jemmy Rawung, Debbie Lombogia, Stenly Goni dan Gabriella Pandy Hasnan diakhiri dengan penampilan Tamasya Musik Nusantara “Pioneer Group” dari New Jersey di bawah koordinasi Debbie Maringka Wantah dan Michael Rotinsulu berupa pertunjukan tari-tarian dan lagu secara non-stop yang cukup bermutu.
Seluruh acara “Malam Kawanua USA 2000” telah berlangsung dengan lancar berkat usaha dan kerja keras ketua panitia dan seluruh anggota panitia di New York.
Susunan Pengurus “Kawanua USA” periode 2000-2004 adalah sebagai berikut: (nama-nama menurut abjad).
Pelindung: Duta Besar Dorodjatun Kuntjoro-Jakti
Panasehat: Dr. Daniel Injo (LA), Dr. Edwin Pasuhuk (LA), Pdt. Hengky Hermanus (NJ), Pdt. Johnny Kohdong (NJ), Dr. Yopie Kalangie (NY).
Ketua Umum: Emile D. Mailangkay (LA)
Wakil Ketua Umum: Bernhard Lapian (DC), Eddy Saerang (WA), Jimmy Manese (LA), John G. Laloan (NY), Robert Mewengkang (NY).
Ketua-ketua: Denny Sanger (NJ), Hengky Rumagit (LA), Jan Tuwaidan (NY), Johnny Mamesah (LA), Johnny Wuaten (NY), Krishna Sumanti (WA), Lenny Supit (DC), Richard Taroreh (LA) .
Sekretaris Umum: Meike Sumanti-Laoh (LA)
Sekretaris: Hendry Dengah (PA), Jeanette Awuy Widjaja (NY), Jerry Kiroyan (LA), Sisca Langi (NY), Victor Kumesan (WA), Wim Rumambi (NJ), Joseph Rey (LA).
Bendahara Umum: Anna Mamesah-Kaseger.(LA)
Bendahara: Dumanau Sompotan (NY), Ellen-Suy-Lalamentik (NJ), Errol Tandayu (DC), Maureen Laloan (NY), Max Oroh (LA), Carla Taroreh (LA).
Koordinator Umum: Marthen Kaligis (NY).
Koordinator: Benny Sumilat (PA), Harry Rombot (NY), Jans Rotindulu (NJ), Jeffrey Malonda (NY), John Mewengkang (NH), Jooce Lengkong (LA), Kiki Ratu (NY), Manuel Roring (LA), Pieter Maramis (NY), Sero Rarung (NH), Welly Mandagi (NY), Welly Rey (LA).** (“Indonesian Journal” terbitan September 2000)
Bookmark
Email this
Hits: 264
Comments (0)
Subscribe to this comment's feedShow/hide comments
Write comment
